Rabu, 04 Januari 2012

artikel VR

Virtual reality (VR) atau realitas maya adalah teknologi yang membuat pengguna dapat berinteraksi dengan suatu lingkungan yang disimulasikan oleh komputer (computer-simulated environment), suatu lingkungan sebenarnya yang ditiru atau benar-benar suatu lingkungan yang hanya ada dalam imaginasi. Lingkungan realitas maya terkini umumnya menyajikan pengalaman visual, yang ditampilkan pada sebuah layar komputer atau melalui sebuah penampil stereokopik, tapi beberapa simulasi mengikutsertakan tambahan informasi hasil pengindraan, seperti suara melalui speaker atau headphone.
Beberapa sistem haptic canggih sekarang meliputi informasi sentuh, biasanya dikenal sebagai umpan balik kekuatan pada aplikasi berjudi dan medis. Para pemakai dapat saling berhubungan dengan suatu lingkungan sebetulnya atau sebuah artifak maya baik melalui penggunaan alat masukan baku seperti a papan ketik dan tetikus, atau melalui alat multimodal seperti a sarung tangan terkabel, Polhemus boom arm, dan ban jalan segala arah. Lingkungan yang ditirukan dapat menjadi mirip dengan dunia nyata, sebagai contoh, simulasi untuk pilot atau pelatihan pertempuran, atau dapat sangat berbeda dengan kenyataan, seperti di VR game. Dalam praktik, sekarang ini sangat sukar untuk menciptakan pengalaman Realitas maya dengan kejernihan tinggi, karena keterbatasan teknis atas daya proses, resolusi citra dan lebar pita komunikasi. Bagaimanapun, pembatasan itu diharapkan untuk secepatnya diatasai dengan berkembangnya pengolah, pencitraan dan teknologi komunikasi data yang menjadi lebih hemat biaya dan lebih kuat dari waktu ke waktu.
sumber: wikipedia.org

artikel AR

Beberapa tahun ke depan, teknologi augmented reality yang menyajikan imaji tiga dimensi secara virtual lewat perangkat digital seperti komputer dan smartphone diperkirakan bakal banyak dipakai seiring matangnya teknologi yang mendukung. Salah satu aplikasi teknologi tersebut adalah memperkaya bentuk atau konten iklan.


Iklan gratis atau iklan menjadi salah satu strategi untuk memenangkan persaingan bisnis. Namun, sejauh ini belum ada terobosan dalam iklan yang bisa menciptakan hubungan erat antara konsumen dan produk. Rata-rata iklan dipenuhi dengan pesan searah dari produsen tanpa melibatkan interaksi dan feedback langsung dari konsumen. Dengan teknologi augmented reality (AR), iklan memungkinkan dilakukan dengan lebih interaktif.
“Kalau kita lihat, industri saat ini stagnan. Mereka butuh sesuatu yang unik. Teknologi ini bisa jadi jawaban untuk meningkatkan interaksi produk atau brand dengan konsumen,” urai Peter Sheare, Managing Director Augmented Reality & Co (AR&Co), salah satu perusahaan lokal di Tanah Air yang mengembangkan solusi augmented reality sejak tahun 2009.
Menurutnya, AR bisa menjadi solusi industri dalam beriklan, misalnya, dalam brosur suatu produk. AR pada dasarnya menyisipkan dunia maya ke dunia nyata. Dengan AR, ketika seorang konsumen melihat sebuah brosur menggunakan perangkat tertentu, akan terlihat animasi 3D. Syaratnya, ada aplikasi pendukung dan peralatan berkamera seperti kacamata berkamera, notebook, atau smartphone yang dilengkapi aplikasi pengenal AR.
Dalam obrolan teknologi AR yang diadakan Rabu (6/7/2011) di eX Plaza, Jakarta, Peter mendemonstrasikan brosur iklan Toyota Yaris. Jika brosur dihadapkan pada webcam notebook, di notebook akan tampak informasi interaktif tentang produk. Konsumen juga bisa terlibat dalam iklan tersebut.
“Kita juga bisa main game racing mobil Yaris dengan brosur tadi. Kita berinteraksi bukan dengan notebook, tapi dengan brosur. Kita bisa gerakkan brosurnya untuk maju, mundur, mengerem, dan sebagainya,” katanya.
Brosur Yaris hanyalah salah satu dari sekian karya AR&Co. Produk lain ialah kemasan Teh Sosro. “Bila kita hadapkan kemasan teh ini di depan webcam, kita bisa lihat animasi, jadi interaktif,” kata Peter. Ia mengklaim, AR berhasil berkontribusi meningkatkan penjualan Sosro sebesar 400 persen.
AR&Co selama ini telah membantu 50 perusahaan untuk mengembangkan komunikasi interaktif dengan AR. Teknologi AR yang dikembangkan AR& Co juga telah digunakan untuk media massa, Kompas. Selain itu, Telkom juga pernah menggunakannya untuk meluncurkan logo barunya.
“Titik berat AR ini dalam iklan adalah interaktivitas,” kata Senja Lazuardy, Head of IT Department AR&Co. Jadi, dengan AR, interaksi antara konsumen dan brand akan lebih erat sehingga konsumen pun terpacu untuk membeli produk yang ditawarkan.
Bagi industri, AR juga menciptakan celah pendapatan baru. “Untuk media, bisa dimanfaatkan untuk iklan. Iklan bisa menjadi lebih hidup. Misalnya, kalau ada iklan film di bioskop, dengan AR maka dengan menghadapkan iklan itu ke webcam, pembaca langsung bisa melihat cuplikan filmnya,” urai Peter.
Menurut Senja, saat ini tantangannya adalah mengenalkan teknologi AR karena teknologi ini relatif baru. Salah satunya dengan memperbanyak kegiatan untuk mengenalkan teknologi ini pada masyarakat dan pebisnis. Keterbatasan lain adalah tak setiap orang memiliki alat untuk menikmati teknologi AR. Namun, menurut Senja, ke depan AR yang bisa dinikmati dengan mobile device akan berkembang pesat. AR&Co sendiri telah mengembangkan AR yang bisa diakses lewat perangkat dengan OS Android dan iPhone.(kompas)
info terkait: 
sumber http://sijanggut.blogdetik.com/tag/augmented-reality/